Nggak Diborong Agrinas, Ini Alasan Toyota Belum Produksi Pickup 4×4 Ke RI



Jakarta

Toyota Indonesia punya kemampuan Sebagai memproduksi kendaraan penggerak empat roda (4×4) Ke Indonesia. Fortuner 4×4 misalnya, sudah lahir Bersama tangan anak bangsa Ke pabrik lokal. Tetapi, mengapa Sebagai segmen pickup atau kendaraan komersial seperti Hilux maupun Rangga, Toyota masih terlihat “menahan diri”?

Kepala Negara Direktur PT Toyota Kendaraan Bermotor Roda Dua Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, mengungkapkan bahwa persoalannya bukan terletak Ke kemampuan teknis, melainkan Ke hitung-hitungan Usaha dan Ketahanan model tersebut.

“Kalau kita bicara CKD (completely knocked down) menjadi lokal itu perlu ada waktu, volume, skala ekonomi yang mencukupi. 105 ribu (unit) itu sesuatu yang besar, tapi kita harus pikirkan juga timing-nya berapa. Kalau timing-nya hanya 3 bulan, ini kita perlu pikirkan juga,” ujar Nandi Ke Jakarta, Jumat (6/3/2026).


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Toyota tidak “berjodoh” Bersama skema pengadaan cepat yang Bisa Jadi diinginkan pihak seperti Agrinas. Seperti diketahui PT Agrinas Ketahanan Pangan Nusantara mengimpor 105 ribu unit kendaraan niaga Bersama India. Bila dirinci; 35.000 unit Scorpio Pickup dipasok Bersama Mahindra, Sambil Itu 70.000 unit lainnya berasal Bersama Tata Motors, terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.

Produk Impor 105.000 kendaraan niaga senilai Rp 24,66 triliun Bersama India Sebagai mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Ke sisi lain total pengadaraan Sebagai kendaraan roda empat dan roda enam ini jumlahnya sebanyak 160 ribu unit. Sianya Di 55 ribu unit disuplai Bersama pabrikan yang sudah dirakit lokal; Foton, Mitsubishi Fuso, Isuzu, dan Hino.

Sambil Itu Sebagai segmen pickup, mayoritas kendaraan yang diproduksi Di negeri merupakan tipe penggerak 4×2 Bersama tingkat komponen Di negeri (TKDN) Ke atas 40% dan didukung jaringan layanan purna jual yang luas. Sebagai tipe 4×4, industri Di negeri juga mampu memproduksi, Toyota Indonesia Malahan sudah melakukan Penjualan Barang Ke Luar Negeri Kendaraan Pribadi 4×4 Ke luar negeri.

Nandi menyebut secara kemampuan teknis, Toyota Indonesia sudah sangat mumpuni. Struktur kendaraan komersial Terbaru mereka, seperti Hilux Rangga, sebenarnya punya basis yang familiar.

“Memang kalau bicara Rangga, itu kan frame-nya hampir sama Bersama Innova, lebih panjang dikit lah ya. Sebenarnya relatif lebih mudah. Kita 4×4 Fortuner sudah produksi lokal, 4×4 no issue,” tegas Nandi.

Salah satu alasan kuat mengapa pickup 4×4 masih nyaman diimpor Bersama Thailand ketimbang diproduksi lokal adalah masalah regulasi dan insentif. Ke Thailand, kendaraan jenis pickup Dikatakan “kendaraan rakyat” yang Merasakan keistimewaan Iuran Wajib luar biasa.

“Ke Thailand itu pickup Merasakan privilege, dan Merasakan harga yang lebih Bersaing. Kalau kita lokalisasi pun, kalau tidak ada Keputusan Bersama pemerintah, harganya tidak Berencana turun,” ungkap Nandi.

Ditambah adanya Organisasiregional Free Trade Area (AFTA), bea masuk dan PPnBM sudah nol persen Sebagai Produk Impor Bersama Thailand. Kepuasan ini membuat memproduksi lokal tidak otomatis membuat harga Bersama Sebab Itu lebih murah dibandingkan Produk Impor Bersama Thailand.

“Kita juga perlu ada steping, steping Bersama jualan, Lalu local assembling, hanya merakit lokal, Lalu menjadi Produksi sampai sekarang ini. Seperti apa yang kita harapkan, Sebab kita bicara pickup yang low atau medium itu kan sudah tidak ada structure tax-nya sudah tidak ada,” kata Nandi.

“Kita Bersama Thailand sudah Organisasiregional Free Trade, Lalu luxury tax juga sudah nggak ada, harga Bisa Jadi bisa tidak terlalu berpengaruh dikerjakan lokal.”

“Tapi balik lagi kalau diharapkan seperti itu, kita Berencana mengikuti pemerintah, tentu perlu waktu Sebagai Menyusun itu semua,” jelas dia.

Nandi menegaskan tidak tertarik Ke skema one time buy atau pembelian sekali jalan Di jumlah besar lalu selesai. Mereka ingin setiap model yang diproduksi Ke Indonesia Memperoleh masa Di panjang seperti Kijang.

“Kalau kita Usaha, supply chain kan ikut, supplier ikut. Nggak Bisa Jadi supplier kita suruh kerja setahun saja, habis itu sudah ya,” kata Nandi.

“Masalahnya bukan bisa atau tidak, tapi masalah continuity,” jelas dia.

Bagi Toyota, membangun lini produksi berarti melibatkan ribuan pemasok komponen (supplier). Toyota tidak ingin Penanaman Modal Asing besar ini hanya menjadi proyek sesaat atau one time buy.

“Contohnya Kijang, kita awalnya ngerakit doang, sekarang sudah modelnya Indonesia. Diekspor kemana-mana, kita maunya seperti itu,” pungkas Nandi.

Para pengusaha menilai Produk Impor utuh atau completely built up (CBU) Produk Impor Kendaraan Pribadi Di bentuk utuh dinilai dapat mematikan industri Kendaraan Pribadi Ke Di negeri, tidak menggerakkan ekonomi, dan sama sekali bertentangan Bersama Langkah industrialisasi yang Lagi didorong pemerintah.

“Lebih kuat produksi komponen Kendaraan Pribadi lokal, Lebih tinggi TKDN, penyerapan tenaga kerja, dan efek pengganda Di perekonomian. Sebagai Alternatif, jika pasar didominasi kendaraan Produk Impor Di bentuk utuh, maka industri komponen nasional ikut tertekan dan agenda hilirisasi serta industrialisasi dapat melemah,” ujar Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin.

Artikel ini disadur –> Oto.detik.com Indonesia: Nggak Diborong Agrinas, Ini Alasan Toyota Belum Produksi Pickup 4×4 Ke RI

คุณสามารถเข้าสู่ระบบการเรียนรู้และฝึกฝนเทคนิคการเล่นได้ที่ https://pgth.uk.com/ทดลองเล่นสล็อต/