Jakarta –
Bos Badan Usaha Milik Bangsa (BUMN) PT Agrinas Ketahanan Pangan Nusantara buka suara soal alasan Produk Impor pickup Untuk India.
Direktur Utama PT Agrinas Ketahanan Pangan Nusantara (Agrinas) Joao Angelo De Sousa Mota menjelaskan keputusan membeli kendaraan Produk Impor Sebagai kebutuhan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dilakukan sebagai langkah efisiensi.
“Dari Sebab Itu, kami Untuk melakukan pengadaan sarana dan prasarana termasuk Sebagai kendaraan, memprioritaskan dulu produk-produk yang ada Di Indonesia. Atau produk-produk yang Pada ini memang beredar Di Indonesia,” kata Joao dikutip Untuk CNBC Indonesia, Jumat (20/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dan, pastinya Untuk kami, yang utama itu menjalankan amanat Pak Kepala Negara, yaitu bagaimana melakukan pembangunan ini secara efisien, efektif,dan tepat guna,” tambahnya.
Untuk Kontek Sini, kata dia, tetap menekan Dana tapi tetap bermanfaat maksimal.
“Dan Menyediakan yang terbaik Untuk saudara-saudara kita Di seluruh pelosok Di seluruh Indonesia,” ucapnya.
“Di desa-desa yang mana Berencana kita bangun koperasi, kita Berencana berikan fasilitas sarana dan prasarana yang terbaik. Kita berikan Kendaraan Pribadi yang terbaik sesuai Didalam lokasi dan lahan. Kendaraan Pribadi-Kendaraan Pribadi itu Sebagai digunakan sebagai sarana Ekspedisi secara maksimal,” tambahnya.
Untuk proses tersebut, imbuh dia, Agrinas Menyediakan pilihan kepada Kelompok Didalam berprinsip Di keadilan.
“Fair itu menjadi penting Sebagai Kelompok, kita beri lebih banyak pilihan. Silahkan produsen berkompetisi secara fair, Agar Kelompok Berencana Memperoleh harga yang terbaik, uang mereka Memperoleh nilai maksimal Untuk produk yang mereka dapatkan,” bebernya.
“Kami Sebagai pengadaan truk, kami sudah Menyediakan semua semaksimal Mungkin Saja kepada penyedia truk roda 6, Agar seluruh karoseri yang ada Di Indonesia, kami pastikan 80-90% habis terserap Sebagai Inisiatif ini. Tetapi kita juga harus melihat bahwa teman-teman lain yang Pada Berusaha Di bidang Ekspedisi pun membutuhkan kendaraan-kendaraan Sebagai mendukung kegiatan usaha mereka,” kata Joao.
Sebab itu, sambungnya, pengadaan skala besar ini diharapkan tidak Berencana terganggu.
“Agar Didalam melakukan Produk Impor ini, kita tidak, kita tidak menghilangkan atau tidak memutus mata rantai distribusi yang Pada ini berjalan. Justru kita menambah dan menguatkan, Agar kita pastikan Di Di ini distribusi Sebagai Koperasi Merah Putih Berencana berjalan Didalam sempurna, berjalan Didalam baik,” jelasnya.
Wakil Ketua Komisi VII Lembaga Legis Latif RI Evita Nursanty menyoroti Perjanjian pengadaan kendaraan niaga senilai Rp 24,66 triliun. Perjanjian tersebut mencakup pengadaan total 105.000 unit kendaraan Untuk dua produsen Produsen Kendaraan asal India. Sebanyak 35.000 unit Scorpio Pik Up dipasok Dari Mahindra, Sambil Itu 70.000 unit lainnya berasal Untuk Tata Motors, terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
Evita menilai, Didalam nilai proyek yang mencapai Rp 24,66 triliun, Keputusan ini Memperoleh dampak strategis, tidak hanya Di distribusi Ketahanan Pangan desa tetapi juga Di arah Keputusan industri nasional.
Secara keseluruhan anggota-anggota Gaikindo mempunyai kapasitas produksi Sebagai jenis kendaraanpick-upmencapai lebih Untuk 400.000 unit per-tahun yang hingga kini belum dapat dipergunakan secara optimal.
Kendaraan-kendaraan yang diproduksi tersebut umumnya adalah kendaraan Didalam penggerak 4×2, dan kendaraan-kendaraan tersebut ini sudah Memperoleh Tingkat Komponen Untuk Negeri (TKDN) yang cukup tinggi, mencapai lebih Untuk 40%.
Kendaraan-kendaraan komersial penggerak 4×2 atau jenis pick-up tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan Kelompok diseluruh pelosok tanah air. Hal ini juga berkat Pemberian jaringan servis bengkel pelayanan purna jual yang tersebar cukup luas. Di sisi lain, Gaikindo menyebut Sebagai kendaraan jenis penggerak 4×4 juga dapat diproduksi, Tetapi memerlukan waktu Sebagai persiapan produksinya.
Pejabat Tingginegara Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan produksi kendaraan pick-up Untuk negeri Memperoleh dampak ekonomi yang signifikan Untuk Indonesia. Sebagai ilustrasi, Menperin menyampaikan, apabila pengadaan kendaraan pick-up (4×2) sejumlah 70.000 unit dipenuhi Dari produk Untuk negeri, maka Berencana Menyediakan dampak positif ekonomi (backward linkage) sebesar kurang lebih Rp 27 Triliun.
Menurutnya, apabila kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi Lewat produksi Untuk negeri, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja Berencana dinikmati Dari Indonesia. Subsektor yang berkaitan langsung Didalam produksi kendaraan pick-up contohnya adalah Pembuat Ban, industri kaca, industri baterai basah (accu), industri logam, industri kulit, industri plastik, industri kabel, industri elektronik, dan lain sebagainya.
“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi Lewat Produk Impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja Berencana dinikmati Dari industri Di luar negeri. Tetapi, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi Dari industri Untuk negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga Berencana dirasakan Di Untuk negeri,” ujar Agus Untuk keterangannya Di Jakarta, Kamis (19/2).
Artikel ini disadur –> Oto.detik.com Indonesia: Produk Impor 105 Ribu Pickup Untuk India, Bos BUMN Agrinas Buka Suara









